Showing posts with label Note to Self. Show all posts
Showing posts with label Note to Self. Show all posts
Semua berubah saat Maag menyerang

Semua berubah saat Maag menyerang



Di keluarga saya, saya adalah satu satunya pedes addict. No sambel no life. Everyday is sambel day. Tapi itu dulu. Sekarang saya menjadi anti sambel. Bukan karena kengininan tapi karena keadaan.

Jadi gini, bermula dari mengikuti sebuah kegiatan yang menggiurkan. Gimana nggak menggiurkan, di kegiatan itu nggak banyak gerak dan makan tiga kali sehari terjamin. Sebagai anak kos, siapa sih yang gak mau makan sehari tiga kali gratis?

Singkat cerita saya ikut kegiatan itu. Hal yang bikin tambah seneng kebanyakan temen temen yang ikutan kegiatan juga sambel addict. So, setiap ada kesempatan makan always makan sambel. Tiap hari makan sambel.

Sampai suatu ketika, entah kenapa konsumsi di hari hari itu agak telat. Kadang jam 3 baru makan siang, jam 10 baru makan malam. Sampai suatu hari, saya merasa ada yang nggak beres dengan perut saya. Mules mules gimaa gitu. Saya beberapa kali ke kamar mandi. Dan keesokan harinya saya tepar sakit.

Semenjak saat itu seperti ada yang aneh dengan perut saya kalau saya makan sambel terlalu banyak, padahal sebelumnya biasa aja. Sampai suatu hari saya telat makan,kemudian begitu makan saya makan sambel dengan level yang cukup tinggi. Keesokan harinya perut saya sakit seperti gejala maag. Ketika saya periksakan ke dokter, fix saya kena maag. This is disaster for sambel lover kaya saya.

Dari pengalaman saya tersebut saya menyimpulkan sekaligus mengingatkan untuk jangan keseringan telat makan kemudian makan yang pedes pedes. Kalau pas terpaksa telat makan, makan lah makanan yang rasanya sedang sedang saja. Entah pedes, kecut, manis, pahit harus yang sedang sedang saja. Kalau nggak bisa bisa kmu kena maag seperti saya.

Sekarang saya tidak bisa lagi makan makanan yang terlalu kecut, pedes, manis dan makanandi batasi itu nggak enak sumpah .....

Betapa beratnya menjadi Guru

Betapa beratnya menjadi Guru


Dulu ketika masih dalam bangku sekolah kita sering tidak memperhatikan bapak/ibu guru yang tengah mengajar, clometan sendiri, rame sendiri, ngobrol sendiri. Nah sekarang saya merasakan betapa capeknya jadi seorang guru. Capek hati, capek pikiran dan capek fisik. 

Kebetulan saya mendapat kesempatan mengajar satu kelas dengan durasi 75 menit setiap pertemuan. Rasanya capek. Saya nggak tau gimana bapak/ibu guru yang mengajar seharian dari pagi hingga sore. How strong they are.

Karma is real, saya merasakan beratnya menjadi seorang guru. Tapi mau bagaimana lagi karena nggak mungkin kita memberikan pengertian kepada siswa untuk memperhatikan guru dengan alasan beratnya menjadi seorang guru.

Emang sih jam terbang emang memiliki dampak yang besar. Beberapa hal yang masti saya improve adalah stamina, penapasan,vlume suara dan lebih banyak bicara.

Bahkan menjadi Guru lebih berat daripada menjadi Dosen. Karena guru itu seperti orang tau sedangkan dosen hanya sebatas teman yang lebih pintar dari kita.

No Time for Later

No Time for Later


Orang sering bilang yang namanya umur nggak ada yang tahu. Itu salah. Buktinya saya tahu umur saya, sekarang dua puluh satu tahun. Umur teman saya juga beberapa tahu. Umur kamu yang lagi baca ini juga tahu. Tapi saya lihat ktpnya dulu. Kamu lahir tahun berapa.

Tapi kalau datangnya kematian, nah itu baru bener kalau nggak ada yang tahu kecuali Allah SWT Barusan saya mendengar berita duka dari teman kuliah. Ada salah satu teman yang di panggil oleh Allah SWT. Sedih. Ingat dosa. Sadar akan begitu dekatnya kematian itu.

Seringkali kita lupa bahwasanya kematian adalah hal yang paling dekat dengan kita. Kadang kita dengar “Tobatnya nanti ajaj kalau udah tua”. Siapa yang bisa menjamin kita akan hidup sampaimasa tua. Allahualam.

Menunda nunda, jujur hal ini sering saya lakukan. Bukan hanya pekerjaan atau tugas kuliah. Kadang ibadah pun saya tunda. Astagfirullah. Ya Allah ampunilah dosa-dosaku. Perasaan bersalah kadang datang dan pergi seperti ombak dilautan. Bukan hanya kepada sang pencipta tapijuga orang tua Ketika orang tua menelpon dan mengingatkan untuk sholat. Menunda beribadah dan berbuat kebaikan sama dengan memberi kesempatan setan untuk menggoyahkan kita.


Untuk itu saya mengajak kita semua, no time for later, taka da waktu untuk nanti. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kita di waktu yang akan datang. Tetap berdoa dan berbuat kebaikan. Jangan lupa sholat.

sumber gambar : disini